Rabu, 04 Januari 2017

Sebagian Orang Bijak - Quote



Sebagian Orang Bijak adalah

Orang yang merasa tidak memiliki apapun,
Atau
Orang yang sudah memiliki segalanya.


Bisa juga diartikan sebagai

Orang yang sudah tidak melekat terhadap apa yang ada padanya,
Atau
Orang yang telah memiliki segala hal yang diinginkan dan dibutuhkannya.

Oscar Kurichie

Selasa, 03 Januari 2017

Jangan Tebar Rindu dan Cemburu



Jangan Tebar Rindu dan Cemburu

Wanita yang sudah berSuami tidak diperbolehkan memuji atau menyanjung wanita lain, apalagi memperkenalkan kepada Suaminya. Hal tersebut dapat membuat Suaminya melihat, memperhatikan, atau bahkan membuat sang Suami menjadi penasaran dan mencari kelebihan wanita tersebut.

Mengapa begitu?

Sesuatu yang disampaikan seseorang walau hanya bersifat tidak sengaja, akan memancing minat orang lain untuk memperhatikan, mempelajari, bahkan bisa jadi memahami hal tersebut.
Sebabnya, kadar keingintahuan seseorang tetap ada walau persentasenya berbeda pada tiap manusia.
Inilah yang menyebabkan minat atau ketertarikan.

Setiap keingintahuan yang berhubungan dengan pujian, sanjungan, membicarakan dan membahas kelebihan wanita lain kepada sang Suami dikhawatirkan akan menimbulkan rasa minat dan ketertarikan.

Dan tiap manusia selalu punya rasa rindu, hasrat, cemburu, kesal, dan sebagainya.
Jika hal ini diulang secara terus menerus, bisa jadi suatu saat akan memuncak dan akhirnya dapat menjadi suatu sifat atau kebiasaan yang melekat.
Hal seperti inilah yang memungkinkan terjadinya pertengkaran kecil dalam rumah tangga, dan bisa jadi membesar suatu saat, hasilnya keretakan hubungan.

Inilah rindu dan cemburu yang tanpa sengaja ditebar hanya dengan kata2 ringan.
Dan hal ini juga berlaku pada Pria terhadap Istrinya.

So.. Berhati2lah dalam berkata.

Senin, 02 Januari 2017

Saya Ciong Tai Sui? Beneran?!



Saya Ciong Tai Sui? Beneran?!

Akhirnya sampai juga di Taman Lumbini Berastagi Medan. Perjalanan turun gunung ini berhenti di tengah jalan menuju ke tempat rekreasi satu ini, ya sekaligus sembahyang atau memberi penghormatan.
Brrr.. Pagi yang dingin, dah mau jam 9 tapi kabut masih lumayan banyak.

Setelah masuk dan mau jalan2 keliling lokasi, rupanya masih banyak jalan ditutup. Ya udah, sembahyang aja deh, sekaligus pengennya meditasi.
Wah, rame juga, ngak jadi ahh.. Ntar dikira lagi cari ilmu atau cari sensasi..
Bisa2 difoto dan dimasukin ke medsos sama pengunjung.. Haha..

Setelah keliling lagi tanpa tempat sepi yang bagus, akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencoba berbelok kearah kota Berastagi. Eittss.. Ke Vihara aja deh, disana ada satu Vihara yang lumayan terkenal, mudah2an sepi.
Dan beneran, ngak rame banget.

Setelah keliling2 dan makan (kebetulan ada yang jual makanan, tapi berhubung sepi jadi kayak milik pribadi, hehe..), Saya naik ke lantai 2. Wahh.. mantap, di aula sepi, meditasi aja deh..

Wiihhh.. Seru. Baru duduk bentar dah tiba2 kayak kosong.
Dan rasanya… Hmmmm..
Eitss.. Haha.. Yang satu ini ngak usah dilanjutkan ceritanya. Pengalaman begini saya ngak perlu jelasin, ntar dikira SINTING. Haha..

By the way, yang mau saya certain sebenarnya hal menarik mengenai Ciong.
Ciong mungkin bisa diartikan sebagai tidak cocok, berselisih, berseberangan.

Saat saya tiba di Vihara tersebut, saya melihat ada barang yang diletakkan di atas meja besar. Ada gelang, aneka souvenir untuk masing2 Shio, serta jimat.
Lama melihat bersama beberapa pengunjung lain, seorang wanita datang mempromosikan ini itu, tapi saya Cuma bilang saya hanya melihat aja, karena saya memang tidak berniat beli barang itu.
Akhirnya wanita itu bertanya, “kamu Shio apa?”. Sudah ditanya 2 kali akhirnya saya jawab, daripada dibilang ngak sopan, “Shio Ayam cye”. Lalu wanita itu berkata, “Aduhh, kamu Shio Ayam, tahun depan kamu ngak bagus, ciong Tai Sui, bagus ambil ini (sambil mengambil sebuah bungkusan berbentuk paper bag seukuran bungkus rokok), Cuma Rp xx doang”. Kemudian saya cuma bilang, “ya, makasih sudah tawarin, saya lihat2 saja dulu ya”.

Waktu itu saya lagi malas ngobrol panjang lebar, ntar pikirannya ntah kemana2.
Tapi akhirnya kepikiran untuk membuat catatan ini sebagai pengingat diri. Haha..

Sebenarnya kalau diingat kembali, ada beberapa hal bisa dibahas waktu itu..

Jikalau saya bukan orang yang tau mengenai Dewa Tai Sui, maka saya akan bertanya..
Bila saya ada ciong dengan Tai Sui. Apa sih itu Ciong? Dan kenapa dengan Tai Sui?
Tai Sui Dewa yang mengurus tentang apa? Trus salah saya dengan Beliau itu apa saja?
Bagaimana mengatasinya? Lalu setelah diselesaikan apakah nanti Dewa Tai Sui ada ciong dengan saya lagi di tahun2 berikutnya?
Nah, itu baru pertanyaan pembuka, belum lagi pertanyaan ketika jawaban dari itu muncul.
Kan namanya orang yang tidak tau apa2, jadi mirip anak kecil yang lagi penasaran nanya ini itu, pertanyaannya bisa segunung kan?! Haha..
Kalau yang jawab berpengetahuan dan bijak, pasti jawabannya bisa memberi pengertian kepada si penanya yang kayak anak kecil, dengan sejelas2nya. Tapi kalau tidak? Bisa emosian kan?! Hehe..

Tapi jikalau saya orang yang tau mengenai Dewa Tai Sui, bisa jadi saya akan memulai pertanyaan ringan seperti..
Saya ciong dengan Dewa Tai Sui yang mana? (karena setau saya Dewa Tai Sui itu berjumlah 60).
Saya ciong dengan Dewa Tai Sui bagian apa? Tantangan atau hambatan apa yang saya hadapi bila saya ciong dengan Dewa Tai Sui tersebut?
Nah dari sini saya nantinya bisa menilai dan bertanya kembali dari jawaban yang muncul.
Jika jawabannya sesuai pengetahuan saya maka pertanyaan bisa dilanjutkan dan dibahas bersama. Tapi jika jawabannya tidak sesuai bukankah muncul beberapa hal, misalnya..
Membuat kita jadi mengajarin orang karena orang itu pengetahuannya kurang.
Atau membuat kita juga mengetahui ternyata ada beberapa versi cerita yang akhirnya kita kembali bertanya seperti anak kecil.
Ataupun akhirnya kami berdebat atau saling mengalah, dan bisa jadi akhirnya saling menjelekkan di kemudian hari karena pengetahuan yang belum memadai tersebut.

Apapun hasilnya, pasti diawali dengan ego duluan. Ego yang membuat kita merasa sebenarnya kita lebih tau hal itu atau lebih pintar tentang hal itu. Ego yang kadang membuat orang bisa menjadi kawan maupun lawan. Ego yang akhirnya bisa membentuk untaian karma baru.
Jika menjadi kawan masih tergolong bagus.
Tapi jika menjadi lawan, gara2 ngomong dikit mengenai ciong malah membuat kita menjadi ciong beneran sama manusia yang lebih bisa berbuat banyak dan menjadi hal nyata (karena bagi saya, seseroang menjadi Dewa karena ada sedikit kesempurnaan dalam dirinya disbanding manusia lain, jadi ngak mungkin karena sedikit masalah sepele malah Dewa itu jadi bermusuhan sama kita).

Menurut saya sih, ciong dengan 1 orang, 1 Dewa, atau 1 hal sudah cukup menimbulkan masalah di kemudian hari. Tapi terkadang gara2 masalah sepele akhirnya bisa menimbulkan beberapa ciong atau lebih, bukankah lebih parah?

Jadi bagaimana menurut Anda? Anda yang putuskan.
Haha..

26 Desember 2016

Minggu, 01 Januari 2017

WHATT?? Bermalam Di Jalan?



WHATT?? Bermalam Di Jalan?

Haha.. Mala mini, dalam perjalanan turun gunung menuju Berastagi Medan, tiba2 turun hujan. Karena tidak membawa jas hujan, mau tidak mau sepeda motor juga harus di gas untuk segera mencari tempat berteduh.

Ngak berapa lama, Ahhh.. Ada warkop.. Lumayan, istirahat sebentar sambil minum teh manis panas sambil menunggu hujan reda..

1 jam..
2 jam..
4 jam..
Buset dah, nih hujan panjang umur banget, sudah mau tengah malam kok makin deras.
Bukan hanya teh manis panas lagi, susu panas dan indomi kuah juga sudah habis saya sikat.

Ampun, gimana mau gerak? Bermalam di mana neh?
Menurut pemilik warung dalam radius beberapa kilo juga nga ada penginapan, galon minyak (SPBU) juga jauhhh..
Hadehhh..
Lirik jam dinding udah mau jam 11 tengah malam. Warung juga mau tutup, ngak mungkin nunggu saya pergi. Oh My God…

Tunggu menunggu akhirnya saya sadar juga, mau cemas juga nga ada gunanya, ngak akan selesaikan masalah kan?! Jadi ya, bawa santai aja deh. Dalam benak saya, palingan bermalam di tepi jalan. Haha..

Akhirnya saya memberanikan diri memohon sama pemilik warung, “Bu, kalau Ibu sudah mau tutup warungnya, boleh saya izin istirahat di depan warung sambil nunggu hujan reda?”
Ehh.. Akhirnya karma baik berbuah. Sang Ibu bukan hanya izinkan, malah minjemin kursinya. Haha..
Terima kasih Tuhan. Lumayan, ngak perlu tidur2 ayam di atas sepeda motor atau tidur2an di lantai kan..
“Kalau hujan reda dan adek mau pergi, kursinya tinggalin aja, ngak apa2, disini aman kok”.
Haha.. Makasih ya Bu.. Ibu baik deh..

Akhirnya sambil saya bantu bereskan meja kursi, warung pun ditutup.
Dan tinggallah saya sendiri di depan warung ditemani kursi dan lampu 10 watt..
Dalam pandangan mata cuma ada pohon dan semak2 yang dibalut kegelapan malam, serta terpaan angin dan derasnya hujan.. Haha.. Dingin juga ya.. Brrrr…

Bermalam di sana membuat saya merenung, sangat nyaman tidur di rumah, ranjang empuk, AC, tidak kuatir ada begal, hari ini kok malah menderita.. haha..
Tapi.. Bagaimana pula ya bagi orang yang tidak punya rumah?
Atau bagi orang yang negaranya sedang dalam situasi perang, seperti Gaza?
Wahhh.. Jangankan begal, suatu saat diterjang peluru mentah atau bom pun ngak tau.
Setiap saat bisa dijemput malaikat pencabut nyawa.
Hehe.. Senyum pun jadi kecut, asem.

Bukankah kadang  kita tidak tau berterima kasih atas kehidupan kita sendiri yang orang lain belum tentu mendapatkannya? Bukankah kadang kita lupa bersyukur? Sudah lupa bersyukur malah kadang kita meminta ini itu dari Yang Maha Kuasa agar kita bisa lebih terpuaskan?
Malam ini, batin ini sedikit tersadarkan. Walau hidup adalah pilihan dan bagaimana kita menyikapi pilihan itu, setidaknya berbahagialah, karena masih banyak orang yang lebih menderita dan butuh pertolongan di luar sana.

Terima kasih Bu warkop.. Bukan hanya tempat teduh yang melindungi dari hujan, tapi sentilan ke batin yang menusuk dan memberi pelajaran berharga tentang hidup.


25 Desember 2016